Cinta uang merupakan akar kejahatan

Bukankah gaji para pejabat tinggi kita sdh puluhan juta rp/bln. plus berbagai fasilitas rumah dan mobil dinas dari negara. Lebih besar lagi tentunya, pendapatan para pemilik dan pengelola perusahaan yg diduga menggelapkan pajak. Bukankah penghasilan mrk jauh lebih dari cukup? Tapi, mengapa mrk msh merasa kurang?

Katanya R. Kyosaki terletak pada "pemaknaannya yg keliru antara cinta uang dgn kurang uang."

Dari segi makna cinta;

Cinta uang adalah suatu hasrat yg mendalam utk memiliki uang, bahkan rela mengorbankan apa saja utk meraihnya. Ironisnya, objek 'cinta' yg seharusnya ditujukan kpd "Tuhan dan Sesama Manusia" justru ditujukan kpd uang.

Objek cinta yg salah merupakan suatu penyimpangan sekaligus menjadi akar perilaku menyimpang (jahat).

Dlm positioning yg demikian itu, terbukti bhw "cinta uang merupakan akar kejahatan."

Paradigmanya, bagaimana meraih uang banyak dgn cepat tanpa memikirkan caranya benar atau salah, halal atau haram.

Di negeri ini, sebenarnya jauh lebih banyak org yg 'kurang uang'. Tetapi, mrk tidak otomatis menjadi penjahat.

Nah, kalau saja kejahatan timbul karena kurang uang, maka puluhan juta penduduk miskin Indonesia akan otomatis berubah menjadi penjahat.

Namun, kenyataannya tidaklah demikian. Justru, org yg tdk cukup uang lebih banyak belajar tentang makna kehidupan ketimbang org yg banyak uang tapi memperolehnya dari kejahatan.

Manusia tdk seharusnya mau diperbudak oleh uang. Tetapi, uang hrs ditempatkan sbg alat manusia utk membantu memaknai hidup yg sesungguhnya di dlm kebenaran, keadilan, dan keindahan.

Uang juga tdk seharusnya dijadikan alat utk menindas org lain demi tujuan retire young (meminjam istilah Kyosaki).

Jadi, perilaku korupsi tdk bisa diatasi dgn kecukupan uang yg sifatnya sangat relatif.

Paradigma cinta uanglah penyebab banyaknya manusia melakukan kejahatan, termasuk korupsi dan penggelapan pajak.

Source : http://www.facebook.com/photo.php?pid=31137484&id=1449263453&fbid=1438701974757

No comments:

Powered by Blogger.